Minoritas dalam Heterogenitas yang Terjalin dalam Toleransi

Ulia Yudhistiani, S.Pd.,M.Pd, Guru Sosiologi,  SMA Negeri 2 Brebes

Sebelum membahas mengenai minoritas dan mayoritas, dalam komponen luasnya yaitu masyarakat, artinya di dalam masyarakat terdapat kelompok mayoritas dan minoritas. Masyarakat merupakan sekelompok manusia yang hidup bersama, mempunyai kebutuhan dan di bawah pengaruh kepercayaan yang mempunyai tujuan tersatukan dan terlebur rangkaian kehidupan bersama.

Menurut Koentjaraningrat seperti yang dikutip oleh Sudikan, 2018: 37, Masyarakat sebagai kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat tertentu yang bersifat continue (terus menerus) dan terikan oleh suatu rasa identitas bersama. Menurut faktor-faktor pembentuknya, masyarakat Indonesia tergolong masyarakat yang memiliki struktur bercorak majemuk. Heterogenitas merupakan hasil dari homogenitas yang mempunyai perbedaan dalam unsur-unsurnya. Artinya, masing-masing subkelompok masyarakat beserta kebudayaanya yang berbeda-beda membuat Indonesia memiliki beraneka ragam kebudayaan (heterogen).

Masyarakat bersifat heterogen dan bersifat multikultural, terdiri dari keragaman budaya, ras, etnis, dan agama. Di dalam masyarakat secara umum terdapat beberapa kelompok sosial, yakni kelompok mayoritas dan minoritas. 

Berbicara minoritas tidak lepas dari kata mayoritas, minoritas artinya kelompok yang jumlahnya sedikit dan mayoritas merupakan kelompok besar atau yang jumlahnya besar. Adanya mayoritas dan minoritas ini dapat digambarkan pada kemajemukan masyarakat, atau heterogenitas dalam masyarakat.

Heterogenitas yang saya kaji melalui observasi dan wawancara di lingkungan sekolah Jumat, 3 Oktober 2025 dalam hal ini di sekolah kami terlihat heterogenitas atau kemajemukan, heterogenitas ini terlihat baik dalam agama dan etnis. Heterogenitas ini terlihat dari beberapa kelompok ke dalam mayoritas dan minoritas, walaupun dalam hal ini jelas tidak membeda-bedakan latar siswa yang satu dengan siswa yang lainnya. Salah satu yang akan kami bahas adalah mayoritas dan minoritas etnis dan agama.

Mayoritas yang ada terlihat dari banyaknya siswa di SMA Negeri 2 Brebes ini berasal dari latar belakang etnis Jawa dan Sunda, kondisi geografis di sekolah kami yang berbatasan langsung dengan Jawa Barat, jadi banyak ditemukan siswa yang berlatar belakang dari etnis Sunda, mulai dari bahasanya pun logat Sunda sering terdengar dalam komunikasi antar siswa. Bahasa Sunda di sini yaitu Sunda Ngapak jadi campuran bahasa antar bahasa Brebesan Ngapak dan Sunda Ngapak, terlihat percampuran kebudayaan yaitu percampuran bahasa. Selain itu juga etnis Jawa jelas menjadi kelompok mayoritas, tetapi di sini kelompok etnis Jawa tidak mendominasi, selain itu kelompok etnis berikutnya adalah etnis Batak, nah, di sini etnis Batak menjadi kelompok monoritas, selain itu juga adanya beberapa siswa yang berlatar belakang dari etnis Thionghoa atau biasa dengan istilah China. Namun perbedaan atau heterogenitas ras, etnis, agama dan budaya ini tidak menjadi halangan untuk tetap menjaga rasa toleransi. Baik toleransi agama, karena ada beberapa yang beragama Kristen, Katholik, Budha, dan mayoritas beragama Islam. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara hubungan antarsiswa disini tidak membeda-bedakan antar teman, tidak membedakan atar etnis baik Jawa, Sunda, Batak, ataupun Thionghoa.

Toleransi antar umat agama dan kerja sama baik antar siswa dari latar belakang sosial, budaya atau etnis yang berbeda terjalin dengan baik, jadi terlihat dalam interaksi antar siswa yang berbeda agama dan perilaku antar teman di sekolah terbentuk interaksi asosiatif yakni berupa kerja sama, misalnya ketika kegiatan pembelajaran agama, siswa yang beragama non muslim juga menghargai dengan keluar dari kelas dan belajar di perpustakaan, karena ada waktu tersendiri untuk pembejaran agama non muslim yakni di hari Jumat di ruang Smart Class yang diisi oleh pendeta, serta di kegiatan sholat jumat berjamaah di sekolah, juga kelompok yang beragama non muslim menghargai antar siswa di sekolah.

Hubungan dan interaksi sosial antar siswa yang berbeda agama, suku atau etnis tidak menjadi penghalang dalam melakukan interaksi sosial, jadi interaksi sosial terjalin dengan baik dan tercipta tolerasi umat beragama. Serta dapat dikatakan terjadi harmonisasi sosial yang baik antar siswa walaupun terjadi keberagaman baik agama, bahasa, etnis dan budaya. Sekian dari saya semoga bermanfaat.

Baca Juga